Sibuk Kerja Lupa Keluarga – Ustadz Maududi Abdullah, Lc.


Sibuk kerja lupa keluarga, banting tulang keras peringat itulah alasannya. Oleh karena hal itu, banyak didapati para bapak meninggalkan keluarganya untuk urusan bisnis tertentu. Ia melanglang buana dari satu pulau ke pulau yang lain. Hari ini ke Makasar, besok ke Papua, dan lusa ke Yogyakarta.

Orang memandang bahwa kegiatan di muka nampak sukses kentara, padahal keberhasilan sebenarnya tidak pernah ia dapatkan. Ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak, dalam benaknya yang ada ialah hanya menumpuk uang, lagi dan lagi. Mencari penghasilan boleh saja, jika kebablasan (melampaui batas) tentu sangat disesalkan. Apa jadinya? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Tanpa sadar, banyak orang terjebak ke dalam sistem “karyawan”. Alhasil, ia tidak punya pendirian, ia hanya sendiko dawuh (baca: menurut saja apa kata atasan). Lambat laun, ia melanggar hak Rabb-Nya dengan meninggalkan shalat berjama’ah. Atau ia menelantarkan keluarganya, hak-hak yang paling urgen tidak dapat ia penuhi. Sebenarnya tipikal orang semacam ini, apa yang sedang ia cari? Kebahagiaan seperti apa?