Kehujahan Hadits Dalam Islam Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله


Ada orang bertanya kepada Imam Syafi’i rahimahullah, dia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menetapkan demikian dan demikian.”
Lalu orang itu bertanya kepada Imam Syafi’i rahimahullah : “Bagaimana menurutmu?”
Maka Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

“Maha Suci Allah! Apakah kamu melihat saya dalam bai’at, kamu melihat saya diikat? Saya berkata kepadamu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menetapkan, dan kamu bertanya, ‘bagaimana pendapatmu?’ ”

[Lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq Al Mursalah ala Al Jahmiyah wa Al Mu’aththilah 2/350].

Kemudian Imam Syafi’i rahimahullah menjawab :

“Apabila saya meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu saya tidak mengambilnya, maka saya akan meminta kamu agar menjadi saksi bahwa akal saya telah hilang.”
[Mukhtashar Ash Shawwa’iq 2/350]

Imam Ahmad rahimahullah berkata :

“Semua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sanad baik, maka kita tetapkan dan bila tidak tetap (tidak sah) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan kita tidak menerimanya maka kita kembalikan urusan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al Hasyr : 7]

Ibnu Taimiyah berkata :

“Hadits, apabila sudah shahih semua umat Islam sepakat wajib untuk mengikutinya.”

[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 19/85].