Hukum Menghadiahkan Bacaan Al-Qur’an Untuk Mayit – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA


Sesi tanya jawab dari kajian yang diselenggarakan di Masjid Al Ukhuwah, Jl. Wastukencana No. 27 Bandung – Jawa Barat.

Kajian pada hari Rabu, 18 Januari 2017 / 19 Rabi’ul Akhir 1438 H dengan pembahahasan “Syarah Shahih Bukhari – Syarah Hadits No.1” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.

Sumber video: Rodja Bandung
https://www.youtube.com/channel/UCM73P3XvOfj0HjC97KKYW5g

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Apa ada beda pendapat dalam madzhab Syafi’i tentang hadiah pahala bacaan Al-Qur’an pada mayit? Jawabannya, iya. Ada beda pendapat. Ibnu Katsir membawakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai pada mayit. Sedangkan ulama Syafi’iyah lainnya berpendapat sampainya.
Awalnya kita kaji dahulu ayat berikut, Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).
Mengenai ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Al-Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi –radhiyallahu ‘anhum– pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7: 76).
Ada nukilan dari Ensiklopedia Fikih terbitan Kementrian Kuwait sebagai berikut.

Ulama Hanafiyah dan ulama Hambali berpendapat bahwa bolehnya membaca Al-Qur’an untuk mayit dan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an tersebut untuknya. ….

Imam Ahmad berkata, “Segala amalan kebaikan untuk mayit itu bermanfaat karena adanya dalil yang menerangkan hal ini. Kaum muslimin di berbagai negeri pun secara kompak membacakan Al-Qur’an dan membacakannya untuk mayit dan hal itu tidak ada pengingkaran. Sehingga hal itu dianggap sebagai ijma’ (kata sepakat dari mereka).” Demikian dikatakan oleh Al-Bahuti dari ulama Hambali.
Ulama Malikiyah generasi awal berpendapat bahwa membacakan Al-Qur’an untuk mayit dimakruhkan dan pahalanya tersebut tidak sampai pada mayit. Namun ulama Malikiyah belakangan berpandangan bahwa membacakan Al-Qur’an dan berdzikir serta menjadikan pahala amalan tersebut untuk mayit tidaklah masalah, pahala tersebut pun akan sampai pada mayit. …

Sedangkan pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Asy-Syafi’i, pahala bacaan Al-Qur’an untuk mayit tidaklah sampai. Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan sampainya pahala bacaan Al-Qur’an pada mayit.

Sulaiman Al-Jamal -salah seorang ulama Syafi’i- berkata, “Pahala bacaan Al-Qur’an adalah untuk yang membaca. Boleh juga pahala tersebut untuk mayit namun dengan kehadirannya, atau ada niat, atau dijadikan pahala untuk mayit setelah membacanya.” (Diringkas dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 33: 60-61)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Untuk bacaan Al-Qur’an, pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, bahwa itu tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sementara sebagian ulama Syafi’iyah mengatakan, pahalanya sampai kepada mayit.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 87)

Kesimpulan

Dari bahasan di atas, menunjukkan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai pada mayit menurut pendapat yang dipandang masyhur di kalangan Syafi’i seperti sudah dikatakan oleh Imam Nawawi dan Imam Ibnu Katsir yang merupakan dua ulama besar dalam madzhab Syafi’i. Jadi, jika ada yang mengemukakan pendapat ini di depan publik, jangan heran. Apalagi di publik yang mengaku bermadzhab Syafi’i di tanah air. Karena dalam madzhab Syafi’i sendiri sudah jadi pendapat masyhur mengatakan tidak sampai. Walau tak dinafikan ada ulama Syafi’i yang mengatakan bahwa pahala bacaan tersebut bisa jadi hadiah untuk orang mati.

Sumber artikel: rumaysho.com