Bolehkah Mengeluarkan Zakat Mal Dalam Bentuk Barang? – Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA


Sesi tanya jawab dari Tabligh Akbar yang diselenggarakan di Masjid Al-Ittihad, Komplek PT. Chevron Pacific Indonesia Rumbai – Pekanbaru

Tabligh Akbar dengan tema “Rezekimu Tidak Mungkin Tertukar” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA.

Sumber video: IRDC Ittihad Rumbai
https://www.youtube.com/channel/UCOiB26BD3k7sLryXuoZ_xBA

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Pertanyaan :

“Bolehkah mengeluarkan zakat maal (harta) dalam bentuk barang-barang yang cepat habis dan beberapa pakaian, ketika diketahui bahwa sebagian keluarga yang fakir, lebih baiknya adalah dibelikan barang-barang tadi.

Dikhawatirkan apabila diberi dalam bentuk uang, mereka akan menggunakannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat…?

Jawaban :

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah ta’ala

“Pendapat yang dikenal menurut para ahli ilmu, bahwa seperti ini tidak boleh. Yaitu tidak boleh bagi siapapun untuk membelikan suatu barang dengan harta zakatnya lalu diberikan kepada orang yang berhak sebagai ganti dari bentuk uang.

Mereka mengatakan, bahwa pemberian dalam bentuk uang akan lebih bermanfaat bagi orang fakir, karena mereka bisa menggunakannya sesuai kehendaknya (si penerima zakat), berbeda dengan pemberian dalam bentuk barang.

Karena terkadang dia tidak merasa membutuhkan terhadap barang tersebut. Saat itu bisa jadi dia akan menjualnya dengan harga yang rendah.

Meskipun demikian, ada satu cara yang apabila Anda khawatir uang zakat yang diberikan kepada penghuni rumah itu akan mereka habiskan pada hal-hal yang tidak pokok.

Maka Anda katakan kepada penghuni rumah itu, siapa saja dia, baik bapak, ibu, saudara, atau paman, katakan kepadanya, ”Saya memiliki zakat, kira-kira barang apakah yang Anda butuhkan untuk saya belikan lalu berikan kepada Anda?”

Maka apabila mencoba cara ini, tentu dibolehkan, bahkan zakatnya akan tepat sasaran…”

(Fatawa Zakat Syaikh al-‘Utsaimin no. 346)

Umumnya kita berzakat maal lalu dialihkan berupa bingkisan barang, dengan harapan agar lebih “berkesan”.

Padahal antara orang yang satu dengan lainnya memiliki kebutuhan berbeda. Bukankah demikian…?

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam…”

Sumber artikel: salamdakwah.com