Bahaya Pemahaman Sesat – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Di dalam surah Al An’am Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هٰذَا صِرٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذٰلِكُمْ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿الأنعام:١٥٣

Artinya: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan ayat ini di depan sahabat-sahabat beliau, Rasulullah menggaris dengan telunjuk beliau di atas tanah sebuah garis lurus sambil membaca ayat tersebut: “Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah jalan yang lurus tersebut”.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris lagi beberapa garis disamping kiri dan kanan dari garis yang lurus tadi dengan jari telunjuk beliau sambil membaca: …وَلَا تَتَّبِعُوا۟ السُّبُلَ janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain ini karena kalian akan bercerai berai dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus tadi.

Dari ayat ini dan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ayat ini kepada sahabat-sahabat beliau menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu, sedangkan jalan kebatilan dan kesesatan banyak dan berbilang. “Wa anna hadza shiratii mustaqimaa”, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawali ayat ini dengan kata “anna” yang dalam Bahasa Arab disebut sebagai huruf nasab dan tahqiq untuk mempertegas bahwa sama sekali jalan kebenaran, jalan lurus adalah yang ditunjukkan oleh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan kebenaran hanya Islam yang dasarnya adalah al-Qur’an dan Sunnah beliau. Kemudian disebutkan “shirati mustaqimaa” disamping dia dipertegas dengan huruf “wa anna” kata-kata “shirat” itu adalah isim mufrad, bentuk tunggal. Shiratun-shirathaani-shurut, kalau banyak jalan disebut “shurut”. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan isim mufrad “shirat-shirati” sama dengan apa yang kita baca dalam surah Al Fathihah “idhinas shirathal mustaqim” menunjukkan bahwasanya jalan kebenaran hanya satu yang dasarnya adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan itu dipertegas dengan dalil-dalil yang lain termasuk dari penjelasan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau memprediksi perpecahan yang akan terjadi setelah beliau meninggal dunia.